Sabtu, 21 Mei 2011

Saat kenangan tak mau pergi



Paperback, 288 pages
Published 2008 by Gramedia Pustaka Utama
ISBN 9789792238464


sekali lagi, kedewasaan tidak slalu berbanding lurus dengan usia... 


Resensi:
Commitment is a funny thing, you know? It's almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep. 
"Jadi lebih penting punya Furla baru daripada ngilangin nama mantan laki lo dari dada lo?"
Pernah melihat Red Dragon? Aku masih ingat satu adegan saat Hannibal Lecter yang diperankan Anthony Hopkins melihat bekas luka peluru di dada detektif Will Graham (Edward Norton), dan berkata, "Our scar has a way to remind us that the past is real." 
Tapi kemudian mungkin kita tiba di satu titik ketika yang ada hanya kebencian luar biasa ketika melihat tato itu, and all you wanna do is get rid of it. So then you did. 
Alexandra, 27 tahun, workaholic banker penikmat hidup yang seharusnya punya masa depan cerah. Harusnya. Sampai ia bercerai dan merasa dirinya damaged good. Percaya bahwa kita hanya bisa disakiti oleh orang yang kita cintai, jadi membenci selalu jadi pilihan yang benar. 
Little did she know that fate has a way of changing just when she doesn't want it to.

alexandra, hampir 30, dewasa? 
ben, lewat dr 35, dewasa? 
brantem melulu, padahal mereka dah cerai *rolling eyes* 

merasa kesepian, dinomor duakan, menikah dengan terburu2, akhirnya stlah dua tahun pnikahan, lex minta cerai dr ben.. 
stelah cerai tetep aja tiap ketemu brantem.. 

mari kembali ke teori sotoy.. 

ini si lex mrasa sking extrovertnya, dia ga bisa menikmati waktu saat harus sendirian, slalu mati gaya katanya.. 

nah teori sotoy gw yg ptama, makanya pernikahannya ma ben ga brjalan mulus, secara si ben dokter bedah, byk jadwal operasi, pasti ditinggal melulu dong.. nah pas ben sibuk, n si lex ini lg ga sibuk, dia kesepian deh.. 
padahal lex jg sibuk, n pas si lex ga ada harusnya ben kesepian dong, tp mungkin ben lebih bisa mengatasi kesendiriannya, yaitu dengan tidur :p 

so berbahagialah kita yg bisa menikmati kesendirian dgn membaca ^_^ 

so teori sotoy kedua... 
hmmm tidur dulu yah, cari wangsit :p 
duh jd pengen pangsit #eh? 
................. 

*nyeruput kopi* 
jadi teori sotoy gw yg kedua, 
hey, butuh dua orang buat membuat suatu hubungan berhasil.. tapi buat menghancurkannya cukup satu orang.. 
lex n ben sama2 egois,ga mo ngalah.. ya ga aneh lama2 mereka sibuk ma urusan masing2, smakin lama semakin jauh, n masing2 ngerasa 'kayak ga punya pasangan' 

gw sebel ma lex, kasian si denny.. 
jadi ini teori ketiganya, 
jangan mulai suatu hubungan, saat kita masih belum bisa mengakhiri hubungan sebelumnya.. selesaiin dulu yang lama, baru mulai yg baru.. 
lex memulai hubungan dengan denny, saat dia sendiri tau dia belum bisa ngelupain beno.. sadar ga sadar, dia memulai hubungan dengan denny, cuma tertekan sama omongan orang.. lex masih ngubungin beno kalo lg sakit, kek ga ada dokter lain aja.. nama beno masih nangkring di dada kirinya, padahal dia mampu buat ngilanginnya dgn operasi.. 
N pas dia akhirnya ngilangin, itupun lebih krena dia marah.. 

Tapi sih deninya juga tambeng, dr awal jg keknya dia tau, si lex masih suka ma beno, berapa kali coba si lex salah nyebut nama, n dia masih aja 'nutup mata' 

so intinya baca buku ini gemes melulu deh hwehehehe.... 
dari awal pun dah ketebak, endingnya gimana.. 

gw suka banget ma omongannya wina, sahabatnya lex, 

"gue sadar kenangan ga bakal bisa dihapus. Anggap aja kenangan itu bagian dari hidup yang dulu, yang juga membuat gue jadi gue yang sekarang. Gue cuma perlu mengalami kenangan-kenangan baru yang lebih indah. Hidup kita ga harus ditentukan masa lalu kan Lex?" 

------------------------------------------------------------------ 

"Kita tdk akan pernah bisa mengontrol apa yg dibicarakan org tentang kita, tp kita harusnya punya pilihan utk memposisikan diri apakah akan mendengarkan itu atau tidak." - hal.275 

"CHOOSING, however simple the choices are, is never really that simple." - hal 272 

"You won't know that you did wrong until you did it. All you have to do is just give your best and never give up" - hal 165 
 
Read from April 18 to 19, 2011

http://www.goodreads.com/review/show/137261755

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini